Sarana Prasarana Pendidikan Tunarungu

Berdasarkan tujuan pendidikan, secara terinci tunarungu dapat dikelompokkan menjadi sebagai berikut (Mohammad Efendi, 2006 : 59 – 60) :

1. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 20 – 30 dB (slight losses). Untuk kepentingan pendidikan pada anak tunarungu kelompok ini cukup hanya memerlukan latihan membaca bibir untuk pemahaman.

2. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 30 – 40 dB (mild losses). Kebutuhan layanan pendidikan untuk anak tunarungu kelompok ini yaitu membaca bibir, latihan pendengaran, latihan bicara artikulasi, serta latihan kosakata.

3. Anak tunarungu yang kehilangan pendegarannya antara 40 – 60 dB (moderet losses). Kebutuhan layanan pendidikan untuk kelompok anak tunarungu ini meliputi artikulasi, latihan membaca bibir, latihan kosakata, serta perlu menggunakan alat bantu dengar untuk membantu ketajaman pendengaran.

4. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran antara 60 – 75 dB (severelosses). Kebutuhan pendidikan kelompok anak tunarungu ini perlu latihan pendengaran intensif, membaca bibir, dan latihan pembentukan kosakata.

5. Anak tunarungu yang kehilangan pendengaran 75 dB keatas (profoundly losses). Kebutuhan layanan pendidikan anak tunarungu kelompok ini meliputi membaca bibir, latihan mendengar untuk kesadaran, latihan membentuk dan membaca ujaran dengan menggunakan pengajaran khusus, seperti tactile kinesthetic, visualisasi yang dibantu dengan segenap kemampuan indranya yang tersisa.

Untuk memperbaiki bicara anak perlu dilakukan latihan artikulasi dimana tidak semua sekolah memasukkan dalam salah satu mata pelajarannya. Artikulasi merupakan proses penyesuaian ruangan supraglottal yang tujuannya untuk memodifikasi bunyi suara laryngeal menjadi suara bicara.Pada latihan artikulasi anak belajar secara individu di ruangan khusus dengan satu orang guru artikulasi. Lama waktu belajar sekitar 20-30 menit setiap harinya. Setiap anakpun berbeda berdasarkan kemampuan intelejensinya. Pada buku Pembinaan Bahasa Anak Tuli dengan sistem 350 kata, terdapat cara untuk mengajar artikulasi.

Sarana Prasarana adalah lingkungan fisik sekolah yang secara tidak langsung menunjang proses keterlaksanaan belajar mengajar di suatu sekolah, meliputi: jalan, saluran air, sanitasi, listrik, telpon. Bangunan-bangunan yang diperlukan di sekolah pendidikan khusus Tunarungu adalah sebagai berikut:

Ruang belajar

  1. ruang teori
  2. ruang bina wicara
  3. ruang laboratorium
  4. ruang keterampilan putri
  5. ruang keterampilan putra
  6. ruang serba guna/kesenian
  7. ruang latihan mendengar (ruang training 1 ruang)
  8. ruang audiologi
  9. ruang observasi

Adapun tata letak ruangnya sebagai berikut:

Ruang latihan bicara dan ruang audiometri sebaiknya agar tidak terganggu oleh anak-anak lain, pelajaran latihan bicara diberikan dalam suatu ruang khusus, cukup untuk 1 guru 2 anak dan alat-alat yang diperlukan. Jika ruangan latihan bicara sekaligus dipakai untuk latihan mendengar dengan menggunakan alat pembantu dengar, sebaiknya dinding ruang diberi atau berlapis dengan semacam gabus peredap suara.

Ruang Audiometri. Ruang untuk keperluan meneliti dan mengukur (sisa) pendengaran dengan audimeter, merupakan ruang khusus yang letaknya sejauh mungkin dari sumber kegaduhan. Ruang itu dibuat kedap suara; sedemikian sehingga seberapa boleh tidak ada suara dapat masuk. Dinding dibagian dalam sebaiknya terdiri atau dilapisi bahan peredap suara.

Alat bantu yang dapat dipergunakan oleh anak tunarungu untuk meningkatkan kemampuan artikulasi antara lain:

  1. Cermin

    Untuk memberikan cantoh-contoh ucapan dengan artikulasi yang baik diperlukan sebuah cermin. Dengan bantuan cermin kita dapat menyadarkan anak terhadap posisi bicara yang kurang tepat. Dengan bantuan cermin kita dapat mengucapkan beberapa contoh konsonan, vokal dan kata-kata atau kalimat dengan baik.

  2. Alat bantu wicara (speech trainer)

    Speech trainer ialah sebuah alat elektronik terdiri dari amplifaer, head phone dan mickrophone. Gunanya untuk memberikan latihan bicara individual. Bagi yang masih mempunyai sisa pendengaran cukup banyak akan sangat membantu pembentukan ucapannya. Bagi yang sisa pendengarannya sedikit akan membantu dalam pembentukan suara dan irama.

Ruang Bina Komunikasi, Persepsi Bunyi dan Irama (BKPBI) untuk Tunarungu

Ruang Bina Wicara
a. Ruang Bina Wicara berfungsi sebagai tempat latihan wicara perseorangan.
b. Sekolah yang melayani peserta didik SDLB dan/atau SMPLB tunarungu memiliki minimum satu buah ruang Bina Wicara dengan luas minimum 4m2.

No. Jenis Rasio Deskripsi
1.  Perabot
1.1 Kursi peserta didik = 1 buah/pesertadidik
1.2 Meja peserta didik = 1 buah/pesertadidik
1.3 Kursi guru = 1 buah/guru
1.4 Meja guru = 1 buah/guru
1.5 Lemari = 1 buah/ruang Ukuran memadai untuk menyimpan seluruh peralatan Bina Wicara.

2. Peralatan
2.1 Speech trainer = 1 unit/ruang Berfungsi sebagai alat amplifikasi bunyiuntuk umpan balik pendengaran dan dilengkapi dengan lampu indikator danvibrator, headphone anak (suara dan vibrator),serta mikrofon guru dan peserta didik
2.2 Alat perekam = 1 unit/ruang Tape recorder atau alat perekam lain yangsetara untuk merekam hasil latihan bicarapeserta didik.
2.3 Cermin = 1 buah/ruang Ukuran minimum dapat digunakan 2 orangbersebelahan, dipasang di dinding sebagai umpan balik visual dan membaca ujaran.
2.4 Nasalisator = 1 buah/ruang Alat bantu pembentuk fonem-fonem nasal/sengau.
2.5 Sikat getar = 5 buah/ruang Alat bantu pembentukan fonem-fonem getar.
2.6 Alat latihan = pernafasan1 set/ruang. Dapat berupa bola pingpong dengan mediapipa PVC dibelah, kapas, bulu-bulu, lilin,kertas tipis, pembuluh, parfum/aroma.
2.7 Alat latihan organ bicara = 1 set/ruang. Terdiri dari berbagai makanan lunak, cair dan keras sebagai perangsang lidah, seperti madu,permen, sirup.
2.8 Spatel = 3 buah/ruang. Digunakan untuk memperbaiki posisi lidah saat pengucapan fonem tertentu. Dapat diganti dengan sendok es krim untuk penggunaan sekali pakai.
2.9 Garpu tala = 1 buah/ruang
2.10 Gambar organ artikulasi = 1 buah/ruang Digunakan untuk membantu menyadari posisi organ artikulasi sesuai dengan fonem yang akan dibentuk.
2.11 Bagan konsonan dan vocal = 1 buah/ruang. Digunakan untuk membantu menyadarkan dan membentuk fonem sesuai dengan posisialat ucap.
2.12 Kartu identifikasi = 1 set/ruang Kartu kata berjumlah minimal 15 kartu per fonem untuk mengidentifikasi fonem sesuai dengan posisi awal, tengah dan/atau akhir.
2.13 Buku program latihan = 1 buah/peserta didik. Merekam perkembangan latihan peserta didik.

3. Perlengkapan Lain
3.1 Jam dinding 1 buah/ruang
3.2 Kotak kontak 1 buah/ruang
3.3 Tempat sampah 1 buah/ruang

Ruang Bina Persepsi Bunyi dan Irama

a. Ruang Bina Persepsi Bunyi dan Irama berfungsi sebagai tempat mengembangkan kemampuan memanfaatkan sisa pendengaran dan/atau perasaan vibrasi untuk menghayati bunyi dan rangsang getar di sekitarnya, serta mengembangkan kemampuan berbahasa khususnya bahasa irama.
b. Sekolah yang melayani peserta didik SDLB dan/atau SMPLB tunarungu memiliki minimum satu buah ruang Bina Persepsi Bunyi dan Irama yang dapat menampung satu rombongan belajar dengan luas minimum 30 m2.

Download Sarana Prasarana Pembelajaran Bagi Tunarungu

DownloadBaca Online

Blok kemudian tekan tombol Ctrl dan huruf C pada keyboard secara bersamaan untuk copy artikel di atas. Bagi pengguna Google Chrome bisa menyimpan halaman ini dalam bentuk *pdf melalui tombol print/save di atas.! Bagi yang mau repost ulang harap untuk mencantumkan tautan/sumber!..

Jika Anda menyukai , Share melalui social media di atas (satu suka dari anda sangat berarti bagi kami. Tuliskan kritik dan saran anda pada form komentar di bawah! Ketikan email dan klik subcribe untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Info [K-Moe].

Artikel relevan lainnya
Beri Komentar