Pendekatan Dalam Pembelajaran Gerak Irama

Gerak Irama 

Pendekatan yang dipergunakan dalam pembelajaran yang mengaplikasikan Gerak Irama dapat dilakukan secara psikososial, intervensi fisik, dan pemberian tugas-tugas kegiatan yang umumnya tidak menyimpang dengan keterampilan-keterampilan fungsional yang ada dalam kurikulum (Smith, et al 2002:216). Sebelum dilakukan pendekatan, terlebih dahulu dilakukan kegiatan asesmen guna mengetahui tingkat kebutuhan siswa bersangkutan serta kelainan-kelainan yang mempersulit perkembangan belajar. Umumnya dalam proses kegiatan asesmen digunakan tes yang tersandar atau baku yang lebih mengarah pada pengamatan (bukan verbal). Tes baku dalam kegiatan penyususnan program pembelajaran dengan mengaplikasikan Gerak Irama, digunakan instrumen Geddes Psychomotor Inventory (GPI) dan Play Assessment Chart (PAC).

Fungsi Psikososial

Dalam setting pendidikan, fungsi psikososial mengacu pada kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hal-hal berikut.
  1. Latihan-latihan kecakapan hidup (life skills), misalnya berkaitan dengan masalah kecakapan hidup yang mendasar seperti bagaimana mengatur kesehatan diri dan mengatur rumah, mampu bepergian dalam kota, mengikuti sebuah aturan permainan, dan mengatur penggunaan uang sesuai dengan konsep-konsep diri yang telah ia punya. Kunci sukses dalam kegiatan ini adalah pemberian motivasi siswa.
  2. Latihan-latihan yang mengarah pada keterampilan sosial yang dapat menyiapkan siswa untuk mampu hidup di masyarakat. Oleh karena itu keterampilan sosial ini tidak terlepas dengan isi kurikulum yang ada. Adanya defisist pada keterampilan sosial dapat berakibat munculnya perilaku-perilaku yang tidak diharapkan. Siswa tunagrahita kadang-kadang mempunyai perilaku yang menunjukkan ketidakdewasaan atau tidak pada tempatnya. Keterampilan sosial ini perlu dipersiapkan dalam suatu pelatihan dengan berbagai kesempatan yang menyertakan aturan-aturan belajar dan norma-norma yang bersifat sosial atau bermasyarakat. 
  3. Latihan-latihan dengan "kawan sebaya" (peer training) Dalam kegiatan ini biasanya dipakai siswa lain sebagai fasilitator. Teman sebaya dapat berupa siswa tunagrahita ataupun siswa "normal" dalam sebuah kegiatan pendidikan inklusif (Smith, et al., 2002:216-219).
Latihan dengan kawan sebaya dapat diterapkan dengan berbagai cara dan segala tujuan sesuai dengan keperluannya. Dalam program latihan dengan kawan sebaya terdiri atas dua tipe, yaitu sebagai berikut.

  1. Siswa tanpa kebutuhan khusus mempelajari tentang kebutuhan dan tantangan-tantangan dari siswa yang mempunyai kebutuhan khusus.
  2. Kawan sebaya melatih fasilitas sosial yang diperlukan bagi kepentingan pembelajaran. Dalam hal ini kawan sebaya menjadi sebuah fasilitator untuk dapat menjembatani persahabatan antara siswa, kebutuhan khusus, dan siswa-siswa lainnya yang ada di sekolah tersebut (Smith, et al., 2002:220)

Pendekatan pembelajaran melalui intervensi fisik

Pendekatan pembelajaran melalui intervensi fisik dalam pendidikan sangat diperlukan karena umumnya anak-anak tunagrahita mempunyai masalah dalam keterampilan gross dan fine motor, mempunyai hambatan dalam sistem saraf sehingga sulit mencapai gerak dalam sekuensi perkembangan normal.

Pendekatan dengan perilaku kognitif


Pendekatan dengan perilaku kognitif selama proses kegiatan pembelajaran, banyak dilakukan dengan memodifikasi perilaku agar memperoleh perubahan intelektual atau sosial siswa. Melalui latihan-latihan yang sistematik, siswa dipacu untuk memacu diri sendiri agar dapat menyatu dalam kegiatan. Dalam hal ini, peran guru menjadi lebih banayak memberikan dorongan daripada selalu mengarahkan. Pendekatan perilaku kognitif semacam ini memerlukan prosedur secara sistematik yang melibatkan hal-hal berikut.
  1. Kegiatan asesmen harus dilakukan secara hati-hati, untuk memperoleh informasi berkaitan dengan tingkat kemampuan atau kompetensi setiap individu.
  2. Analisis secara komrehensif pada tugas-tugas yang akan diberikan kepada siswa.
  3. Teaching objectives (sasaran pembelajaran yang jelas)
  4. Menyiapkan jenjang keterampilan yang akan diajarkan sesuai dengan kebutuhan siswa
  5. Menyiapkan contoh dan kondisi perilaku yang diperlukan dalam pembelajaran.
  6. Pergunakanlah penguatan (re-inforcement), hukuman (punishment), dan penarikan kegiatan (extinction) terhadap perilaku-perilaku yang mencul saat pembelajaran.
  7. Lakukan evaluasi terhadap prestasi siswa secara terus menerus.
Blok kemudian tekan tombol Ctrl dan huruf C pada keyboard secara bersamaan untuk copy artikel di atas. Bagi pengguna Google Chrome bisa menyimpan halaman ini dalam bentuk *pdf melalui tombol print/save di atas.! Bagi yang mau repost ulang harap untuk mencantumkan tautan/sumber!..

Jika Anda menyukai , Share melalui social media di atas (satu suka dari anda sangat berarti bagi kami. Tuliskan kritik dan saran anda pada form komentar di bawah! Ketikan email dan klik subcribe untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Info [K-Moe].

Artikel relevan lainnya
Beri Komentar