Ads Banner

Dispraksia (Sukar Bicara dan Mengeja)

Dispraksia (Sukar Bicara dan Mengeja)
Dispraksia (Sukar Bicara dan Mengeja)

Info [K-moe]– Apa itu Dispraksia? Dispraksia berasal dari kata dys, yang artinya 'tidak mudah' atau 'sulit' dan praxis, yang berarti 'bertindak', 'melakukan'. Nama lain dispraksia adalah Developmental Co-ordination Disorder (DCD). Dulunya dikenal sebagai Clumsy Child Syndrome. 

Secara medis, dispraksia adalah gangguan atau ketidakmatangan anak dalam mengorganisir gerakan, akibat kurang mampunya otak memproses informasi, sehingga pesan-pesan tidak secara benar atau secara penuh ditransmisikan. Dispraksia mempengaruhi perencanaan apa-apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya. Dan ini menimbulkan kesulitan dalam berpikir, merencanakan, dan melakukan tugas-tugas motorik atau sensori. 

"Dispraksia bukanlah gangguan pada otot. Bukan pula gangguan kecerdasan, meski akibatnya mempengaruhi kemampuan berbahasa dan pengucapan," papar Belinda Hill, speech pathologist di Australian Dyspraxia Support Group and Resource Centre Inc di New South Wales. "Problem dispraksia timbul ketika otak mencoba memerintahkan untuk melakukan apa yang mesti dilakukan, namun kemudian sinyal perintah itu diacak, sehingga otot tidak bisa membaca sinyal yang dikirimkan otak."

Dispraksia kadang dikelirukan dengan disleksia, yakni kesukaran untuk membaca, menulis, atau mengeja, dan seringkali diikuti dengan problem lain seperi ketrampilan pengorganisasian yang buruk. Dispraksia mungkin juga sering dikelirukan dengan ADD (Attention Deficit Disorder), ADHD (Attention Deficit Hyperactivity isorder), atau Dyscalculia (sukar untuk menangkap konsep-konsep matematika). "Namun sebenarnya dispraksia mencakup problem yang lebih luas dan bervariasi."

Menurut Belinda, pada bayi, dispraksia kerap ditandai dengan sedikit atau tidak adanya ngoceh. Ketika anak mulai belajar bicara, huruf konsonan yang diucapkannya sangat sedikit.

Pada usia pra-sekolah, anak dipraksia bisa memiliki sebagian atau semua kondisi berikut: terlambat berguling, merangkak, berjalan. Anak dispraksia biasanya sukar menyesuaikan diri saat beralih ke makanan padat. Ia sukar melangkah, memanjat, menyusun puzzle, sukar mempelajari ketrampilan baru secara insting, dan lambat mengembangkan kata-kata. Ia sulit berbicara jelas. Anak juga kesulitan menggerakkan mata, sehingga ia lebih suka menggerakkan kepala daripada menggerakkan matanya. 

Pada anak yang lebih besar, ia akan kesukaran memakai pakaian, menalikan sepatu, menggunakan cutter atau pisau, keseimbangan badan yang buruk, sukar belajar naik sepeda, kemampuan membaca yang rendah, dan buruk dalam menulis. Anak sukar mengingat instruksi dan menyalin tulisan dari papan tulis. Ia juga tidak dapat menangkap konsep seperti 'di bawah', 'di atas', 'di dalam'.

Apa itu Dispraksia? Dispraksia berasal dari kata dys, yang artinya 'tidak mudah' atau 'sulit' dan praxis, yang berarti 'bertindak', 'melakukan'. Nama lain dispraksia adalah Developmental Co-ordination Disorder (DCD). Dulunya dikenal sebagai Clumsy Child Syndrome. 

Secara medis, dispraksia adalah gangguan atau ketidakmatangan anak dalam mengorganisir gerakan, akibat kurang mampunya otak memproses informasi, sehingga pesan-pesan tidak secara benar atau secara penuh ditransmisikan. Dispraksia mempengaruhi perencanaan apa-apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya. Dan ini menimbulkan kesulitan dalam berpikir, merencanakan, dan melakukan tugas-tugas motorik atau sensori. 

"Dispraksia bukanlah gangguan pada otot. Bukan pula gangguan kecerdasan, meski akibatnya mempengaruhi kemampuan berbahasa dan pengucapan," papar Belinda Hill, speech pathologist di Australian Dyspraxia Support Group and Resource Centre Inc di New South Wales. "Problem dispraksia timbul ketika otak mencoba memerintahkan untuk melakukan apa yang mesti dilakukan, namun kemudian sinyal perintah itu diacak, sehingga otot tidak bisa membaca sinyal yang dikirimkan otak."

Dispraksia kadang dikelirukan dengan disleksia, yakni kesukaran untuk membaca, menulis, atau mengeja, dan seringkali diikuti dengan problem lain seperi ketrampilan pengorganisasian yang buruk. Dispraksia mungkin juga sering dikelirukan dengan ADD (Attention Deficit Disorder), ADHD (Attention Deficit Hyperactivity isorder), atau Dyscalculia (sukar untuk menangkap konsep-konsep matematika). "Namun sebenarnya dispraksia mencakup problem yang lebih luas dan bervariasi."

Menurut Belinda, pada bayi, dispraksia kerap ditandai dengan sedikit atau tidak adanya ngoceh. Ketika anak mulai belajar bicara, huruf konsonan yang diucapkannya sangat sedikit.

Pada usia pra-sekolah, anak dipraksia bisa memiliki sebagian atau semua kondisi berikut: terlambat berguling, merangkak, berjalan. Anak dispraksia biasanya sukar menyesuaikan diri saat beralih ke makanan padat. Ia sukar melangkah, memanjat, menyusun puzzle, sukar mempelajari ketrampilan baru secara insting, dan lambat mengembangkan kata-kata. Ia sulit berbicara jelas. Anak juga kesulitan menggerakkan mata, sehingga ia lebih suka menggerakkan kepala daripada menggerakkan matanya. 

Pada anak yang lebih besar, ia akan kesukaran memakai pakaian, menalikan sepatu, menggunakan cutter atau pisau, keseimbangan badan yang buruk, sukar belajar naik sepeda, kemampuan membaca yang rendah, dan buruk dalam menulis. Anak sukar mengingat instruksi dan menyalin tulisan dari papan tulis. Ia juga tidak dapat menangkap konsep seperti 'di bawah', 'di atas', 'di dalam'.

Anak dispraksia mengalami kesulitan mengucapkan bunyian-bunyian tertentu dan lafal ucapan mereka menjadi tidak jelas. Sebagian anak penderita dispraksia mempunyai sifat terlalu sensitif dengan sentuhan. Sebagian lain mengalami articulatory dyspraxia, yang menyebabkan mereka kesukaran dalam berbicara dan mengeja.

Anak dispraksia mengalami kesulitan mengucapkan bunyian-bunyian tertentu dan lafal ucapan mereka menjadi tidak jelas. Sebagian anak penderita dispraksia mempunyai sifat terlalu sensitif dengan sentuhan. Sebagian lain mengalami articulatory dyspraxia, yang menyebabkan mereka kesukaran dalam berbicara dan mengeja.

Print/Save

Blok kemudian tekan tombol Ctrl dan huruf C pada keyboard secara bersamaan untuk copy artikel di atas. Bagi pengguna Google Chrome bisa menyimpan halaman ini dalam bentuk *pdf melalui tombol print/save di atas.!
Share This :

Jika Anda menyukai , Share melalui social media di atas (satu suka dari anda sangat berarti bagi kami. Tuliskan kritik dan saran anda pada form komentar di bawah! Ketikan email dan klik subcribe untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Info [K-Moe].

Artikel relevan lainnya
Beri Komentar