Ads Banner

Anak Berkebutuhan Khusus = Perawatan Mahal?

Anak Berkebutuhan Khusus = Perawatan Mahal?
Anak Berkebutuhan Khusus = Perawatan Mahal?
Anak Berkebutuhan Khusus = Perawatan Mahal?

Ini adalah kisah seorang Ibu yang memiliki anak yang didiagnosa memliki gangguan permusatan perhatian dan Hiperaktip dan penyandang spektrum Autisme.

Anak Berkebutuhan Khusus = Perawatan Mahal? Hal itulah yang berkecamuk di pikiran saya akhir-akhir ini. Saya hanya tertegun mendengar jawaban Bendahara Sekolah tempat putra bungsu saya terapi, ketika saya menanyakan biaya sekolah Tk di tahun ajaran 2013 nanti. Biaya yang dibutuhkan ternyata besar karena nantinya selama bersekolah putra saya akan didampingi oleh terapisnya secara penuh. Putra bungsu saya adalah anak berkebutuhan khusus, ia didiagnosa memiliki Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) dan penyandang Spektrum Autisme. Yang dimaksud dengan spektrum autisme adalah hanya memiliki sebagian kecil tanda-tanda autisme, bisa dikatakan autisme ringan.

Ahmad, nama putra bungsu saya. Sekarang ia berumur 4,5 tahun. Ia didiagnosa saat berumur 3 tahun. Boleh dibilang saya terlambat mengetahui kondisi sebenarnya putra saya ini meskipun sudah ada tanda-tandanya sejak ia berumur 1,5 tahun. Pada saat ia berumur 2 tahun ia tidak bisa berbicara sama sekali padahal waktu 9 bulan bulan ia bisa mengucapkan kata “ayah” dan “maem”, namun kata-kata itu hilang ketika menginjak 1 tahun. Ia masih menggunakan bahasa menangis ketika mengungkapkan keinginannya dan bila tidak segera dituruti ia menjadi temper tantrum atau tidak terkendali.

Saya pikir ia hanya tertunda saja bicaranya (speech delay). Lalu ia saya bawa ke Sentra Anak Berkebutuhan Khusus di Jember kota tempat kami tinggal. Boleh dibilang saat itu saya syok dengan biaya terapi di sentra itu. Bagi kami biaya itu lumayan besar dengan penghasilan suami saya yang saat itu bekerja pada perusahaan swasta sebagai Salesman. Saya pun mencari solusi alternatif (yang agak saya sesali sampai saat ini) dengan memasukkkan Ahmad ke sebuah Playgroup standar dengan harapan ia bisa berbicara dan bermain karena memiliki banyak teman nantinya. Dan hasilnya, tak sampai setahun ia bermain di Playgroup tersebut saya mendapat panggilan dari Kepala Sekolah. Beliau menyarankan Ahmad membutuhkan pendamping khusus karena mereka tidak sanggup mengatasi putra bungsu saya ini. Ahmad tidak mau diam, masuk kelas dan berinteraksi dengan teman dan gurunya. Ia lebih suka bermain sendiri,sulit diatur dan bila keinginannya tidak dituruti ia akan mengamuk. Ahmad pun tidak menunjukkan perkembangan yang berarti.

Berdasarkan itu, atas desakan keluarga terutama adik perempuan saya. Saya mulai berkonsultasi pada psikolog anak. Beliau menyarankan untuk membawa Ahmad ke psikiater di Surabaya untuk didiagnosa. Dari hasil diagnosis itu akan ditentukan bagaimana cara mengatasi hambatan perkembangan pada Ahmad. Disamping khawatir akan keadaan putra saya, saya juga mengkhawatirkan biaya periksa ke psikiater yang saat itu saya perkirakan tidak murah. Dan benar saja, biayanya memang besar karena diperlukan tes ke laboratorium untuk mengetahui kondisi putra saya. Belum lagi biaya pengobatannya yang tidak bisa ditebus dengan satu kali atau dua kali saja. Untuk pengobatan awal diperkirakan Ahmad akan meminum obat selama satu tahun dan obat dapat ditebus satu bulan sekali dengan masa 30 hari. Biaya konsultasi, pengobatan dan pulang pergi Jember-Surabaya sangat besar bagi kami. Saya tidak akan menjabarkan nilainya karena tingkat kemahalan setiap orang adalah relatif. Yang saya maksud mahal adalah perbandingan antara perawatan putra saya dengan penghasilan suami saya saat itu dan kebutuhan-kebutuhan yang lain. Ditambah lagi, psikiater menganjurkan agar Ahmad menjalani terapi perilaku dan perkembangan di Sentra Anak Berkebutuhan Khusus. Karena menurutnya, sinergi antara pengobatan, terapi dan diet (gluten, kasein dan gula) sangat menunjang kesembuhan dan perkembangan penyandang autisme dan spektrum autisme.

Dengan perasaan yang campur aduk saya harus segera melakukan tindakan-tindakan tersebut. Jujur saja, faktor biaya yang menghantui saya saat itu karena tepat pada saat itu suami saya sedang bermasalah dengan usahanya yang macet dan makin merugi. Alhamdulillah, keluarga saya tidak tinggal diam mengetahui kondisi Ahmad. Mereka membantu biaya pengobatan Ahmad. Untuk sementara beban saya terangkat. Saya pun harus memikirkan biaya terapi Ahmad yang jumlahnya 4 sampai 5 kali sekolah standar. Saya pun berdoa kepada Allah dan memohon petunjuk jalan keluar masalah yang kami hadapi ini. Tanpa disangka. Suami saya diterima pada suatu perusahaan dengan jabatan dan gaji yang lebih tinggi dari sebelumnya setelah usahanya bangkrut. Akhirnya masalah kami terjawab, kami bisa memasukkan Ahmad pada program terapi di Sentra Anak Berkebutuhan Khusus.

Alhamdulillah, Ahmad menunjukkan perkembangan yang signifikan selama 1 semester ia menjalani terapi. Kosakatanya bertambah dan ia mulai bisa mengungkapkan keinginannya tanpa menangis. Sedikit demi sedikit ia mulai membangun komunikasi dengan kami sekeluarga dan beberapa orang dekat keluarga kami. Kemampuan motorik kasar dan halusnya masih dalam perkembangan karena meski Ahmad anak yang hiperaktif, gerakannya kaku dan tidak terarah.

Postingan ini saya tulis bukan berarti saya mengeluh dan hitung-hitungan biaya perawatan putra kami. Namun ini adalah bentuk kekhawatiran kami sebagai orangtua yang diberi amanat oleh Allah SWT. Karena bagaimanapun, sudah selayaknya ini menjadi tugas dan tanggung jawab kami yang harus kami laksanakan sebaik mungkin. Anak-anak kami adalah titipan Allah yang tak ternilai dan harus kami perjuangkan agar menjadi insan yang baik. Namun kami khawatir tidak bisa memberikan upaya terbaik dan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang seperti anak-anak yang lain. Dan ternyata hal ini juga menjadi pikiran dan kekhawatiran orangtua lain yang memiliki anak berkebutuhan khusus disamping memikirkan masa depan buah hati kami.

Sekali lagi. Alhamdulillah kami masih mampu membiayai terapi dan sekolah Ahmad nantinya bila ia sudah mampu bersekolah secara fisik dan mental. Dan kami akan terus mengupayakannya dengan sekuat tenaga kami. Namun ternyata ada yang mengganjal pikiran saya akhir-akhir ini. Bagaimana dengan nasib anak-anak berkebutuhan khusus lain yang orangtuanya tidak mampu?

Seringkali saya mendengar dan melihat berita ditemukannya anak yang dipasung dan dikurung orangtuanya selama bertahun-tahun karena tidak terkendali dan berbahaya bagi orang lain dan dirinya sendiri. Mereka dicap sebagai anak yang sakit jiwa padahal ternyata mereka penyandang autisme. Pengetahuan yang terbatas dan kemiskinan menjadi penyebab orangtuanya memasung dan mengurung mereka sehingga mereka menjadi semakin parah dan tenggelam. Jangankan untuk membawa anak-anak mereka ke psikiater, untuk makan sehari-hari saja mereka harus berjuang mati-matian. Anak-anak itu akan dianggap sebagai beban hidup. Namun kita tidak bisa menyalahkan orangtua tersebut sepenuhnya karena memiliki anak berkebutuhan khusus terkadang membuat lelah secara fisik maupun mental.

Kalau begitu sudah menjadi tugas pemerintahlah dalam merawat anak-anak istimewa yang orangtuanya tidak mampu. Pemerintah seharusnya mulai memperhatikan masalah ini karena jumlah anak-anak berkebutuhan khusus seperti autisme, down syndrome, tunanetra, tunarungu semakin bertambah terutama autisme. Anak-anak istimewa inilah juga bagian darivmasa depan bangsa. Impian saya adalah suatu saat akan semakin banyak sentra-sentra anak berkebutuhan khusus gratis dengan fasilitas yang memadai. Sehingga orangtua yang tidak mampu tidak perlu mengkhawatirkan biaya terapi bagi putra-putrinya. Namun saat ini jangankan sentra anak berkebutuhan khusus, sekolah untuk anak-anak normal saja masih menjadi PR besar pemerintah kita saat ini. Bagaimanapun sebagai orangtua saya akan selalu berharap impian ini akan terwujud suatu saat nanti.

http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2013/01/25/anak-berkebutuhan-khusus-perawatan-mahal-528437.html

Print/Save

Blok kemudian tekan tombol Ctrl dan huruf C pada keyboard secara bersamaan untuk copy artikel di atas. Bagi pengguna Google Chrome bisa menyimpan halaman ini dalam bentuk *pdf melalui tombol print/save di atas.!
Share This :

Jika Anda menyukai , Share melalui social media di atas (satu suka dari anda sangat berarti bagi kami. Tuliskan kritik dan saran anda pada form komentar di bawah! Ketikan email dan klik subcribe untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Info [K-Moe].

Artikel relevan lainnya
Beri Komentar