Ads Banner

Buku Kurikulum Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Buku Kurikulum Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Buku Kurikulum Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) akan memiliki buku Kurikulum Pendidikan Khusus. Buku tersebut ditujukan bagi siswa ABK kelas 1, dan 4 Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), kelas 7 Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), dan kelas 10 Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB).

Adapun Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus mencakup tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras dan autisme. Demikian pernyataan tersebut mengemuka dalam pada acara Workshop Pengembangan Kurikulum: Panduan Pelaksanaan, Akademik, Kompensatoris dan Kecakapan Hidup, pada 12 Februari 2014

Direktur Pendidikan Khusus Layanan Khusus (PKLK) Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Mudjito mengungkapkan, penyusunan buku sedang berada pada tahap pengarahan bagi tim penyusun buku. Terdapat 341 guru, tim pengawas, dan kepala sekolah yang berkecimpung di bidang pendidikan khusus menjadi tim penyusun buku.

Rinciannya, sebanyak 126 guru, pengawas, kepala sekolah dari semua mata pelajaran yang mengajar Anak Berkebutuhan Khusus. Selain itu, sebanyak 215 guru, pengawas, kepala sekolah dari pendidikan khusus yang sesuai dengan jenis kecacatan yang dimiliki Anak Berkebutuhan Khusus (tunanetratunarungutunagrahitatunadaksatunalaras dan autisme).

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan (Wamendik) Musliar Kasim menjelaskan, penyusunan buku pendidikan khusus disesuaikan dengan jenis sekolah yang menangani layanan pendidikan bagi ABK. Saat ini, terdapat dua jenis sekolah tersebut. Pertama, Sekolah Luar Biasa yang menangani ABK dengan keterbatasan ganda (multi difabel). Untuk peserta didik inilah tim akan menyusun buku Kurikulum Pendidikan Khusus. Penyusunan buku akan mengadaptasi dari buku Kurikulum 2013 di kelas reguler dengan penyesuaian pada tingkat keterbatasan dari lima jenis ABK.

Kedua, sekolah inklusi dimana ABK akan ditempatkan bersama dengan anak reguler pada umumnya. ABK yang ditempatkan di sekolah ini adalah peserta didik yang memiliki keterbatasan tidak terlalu parah, dan tidak memiliki keterbatasan intelektual, sehingga bisa mengikuti mata pelajaran. Untuk ABK di sekolah ini, para peserta didik tetap menggunakan buku mapel yang digunakan sekolah pada umumnya. Tim penyusun akan membuat buku panduan guru untuk mengajar para ABK. Sehingga, guru dapat lebih maksimal dalam menyampaikan mapel sesuai dengan ketunaan yang dimiliki.

"Seperti, ketika guru mengajarkan tema tentang diri, buku panduan guru akan menjelaskan cara guru menyampaikan materi itu berbeda antara ABK tunanetra, dengan tunawicara.” terangnya.

Mata pelajaran pendidikan khusus terdiri dari mata pelajaran Pendidikan Agama, Budi Pekerti, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya dan Prakarya, Pendidikan Jasmani dan Olah Raga, Bahasa Inggris. Jenjang sekolah sasaran pendidikan khusus adalah SDLB, SMPLB, dan SMALB.  Khusus jenjang SMALB, para peserta didik ABK akan diberikan pendalaman mapel Kecakapan Hidup, disamping mapel wajib. “Supaya para lulusan SMALB bisa mandiri, mereka akan mendapat pendalaman mapel Kecakapan Hidup, dibandingkan peminatan IPA, IPS,” tutur Mudjito.

Print/Save

Blok kemudian tekan tombol Ctrl dan huruf C pada keyboard secara bersamaan untuk copy artikel di atas. Bagi pengguna Google Chrome bisa menyimpan halaman ini dalam bentuk *pdf melalui tombol print/save di atas.!
Share This :

Jika Anda menyukai , Share melalui social media di atas (satu suka dari anda sangat berarti bagi kami. Tuliskan kritik dan saran anda pada form komentar di bawah! Ketikan email dan klik subcribe untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Info [K-Moe].

Artikel relevan lainnya
Beri Komentar